Pages

Showing posts with label benci. Show all posts
Showing posts with label benci. Show all posts

Thursday, February 8, 2024

Suami? Sebagai (support) system, atau (penghancur) mental? v.4

Tulisan ini aku buat untukku sendiri yang sedang lelah hati, dan letih fisik.

kami berfikir bahwa jarak 3th adalah jarak ideal untuk seorang anak memiliki adik,  And we are totally wrong.

Ternyata jarak 3th belumlah cukup ideal untuk seorang balita punya adik.
Karena ternyata mereka masih melihat adik (sosok anggota keluarga baru) sebagai saingan.

Meskipun selama proses 9bulan berjalan, hampir setiap hari udah kita sounding bahwa akan ada anggota baru yang hadir dengan sebutan adik tidak mampu meredamnya.

Monday, February 5, 2024

Pernah Memiliki

Aku pernah memiliki seorang pria yang hampir bisa dikategorikan sempurna di jalur kebenaran..

1. Ibadah rajin
2. Bacaan qur'an bagus
3. Pemahaman agama Ok
4. Tidak pernah marah padaku
5. Tidak pernah melarangku melakukan segala yang aku suka
6. Sangat menyayangi orang tua
7. Tunduk dan patuh terhadap orang tua

Thursday, January 25, 2024

Suami? Sebagai (support) system, atau (penghancur) mental? v.3

Tema masih sama, tentang pertanyaan mayoritas perempuan terkait kehadiran sosok suami di dalam rumah tangga. 

Yang paling menarik aku baca saat ini adalah seputar keterlibatan seorang suami dalam pola pengasuhan anak.

Ada seorang istri bercerita tentang sikap suaminya dalam mengurus bayi, sangking minim keikutsertaan sang suami dalam merawat bayi (sang istri baru melahirkan kurang dari 8 bulan) dia mulai merasakan kalau membutuhkan bantuan psikologis karena merasa kewalahan dalam mengelola emosi-nya.

Wanita ini bercerita, bahwa suaminya tidak ikut serta dalam pengurusan newborn (bergadang, memberikan susu setiap dua jam sekali, mengganti popok, memandikan, menimang-nimang,

Saturday, January 20, 2024

Suami? Sebagai (support) system, atau (penghancur) mental? v.2

Masih dalam edisi tentang suami.

Suami? Sebagai (support) system, atau (penghancur) mental?

Ada thread lain yang menceritakan bahwa sang istri mengeluhkan sikap sang suami selama proses kehamilan sampai dengan melahirkan.

Sang istri bercerita, ketika hamil beliau mengatakan kepada suaminya bahwa tulang ekor atau punggungnya terasa nyeri, apakah itu normal atau tidak? bahkan pada trimester pertama, sang istri tidak bisa makan dengan tenang karena rasa mual yang menyiksa.

Suami? Sebagai (support) system, atau (penghancur) mental?

Ketika tanpa sengaja, mata membaca sebuah thread yang mempertanyakan posisi suami dalam rumah tangga.

Apakah suami sebagai (support) system, ataukah malah menjadi (penghancur) mental?
Dua posisi peran yang sangat berbeda makna beserta hasil akhirnya.

Ada seorang istri bercerita bahwa dia pernah melontarkan pertanyaan terhadap suaminya. 
"Kalau seorang ibu dalam fase menyusui, apakah semua nutrisi makanan yang ibu cerna lari ke Asi? klo gitu si Ibu tidak memperoleh nutrisi atau gizi dari makanan yang dia makankah?"

lalu dengan entengnya sang suami memberikan jawaban bahwa 
"Pemikiran istrinya adalah pemikiran yang bodoh, termakan oleh stigma yang ada di

Wednesday, January 3, 2024

Manipulatif part II

Hayolooo... engga nyangka diem-diem ada yang baca coretan aku ya  Hahaha.

Jadi ceritanya setelah 2 hari sejak tulisan terakhir aku posting, ada beberapa rekan yang kirim pesan.

Dua diantaranya mengatakan bahwa, sifat manipulatif seseorang tidak bisa benar-benar dikatakan valid kalau kita tidak langsung bersinggungan dengan mereka.


Eits.. jangan salah. Gini-gini aku juga pernah ngerasain (sebutlah menjadi korban) keganasan sifat doi ya.

Tuesday, January 2, 2024

Apakah Anda Mempunyai Kenalan Orang Manipulatif?

Sukak sekali dengan pertanyaan ini. Apalagi kalau ditambahkan dengan pertanyaan.

'Adakah orang manipulatif di dunia ini?'

Jawabannya jelas ada dong. Dan jika ditanya apakah aku memiliki kenalan dengan karakter demikian? ya Jelas.

Aku menyebutnya si Anjink, kenapa? karena sifat manipulatif dia-lah yang membuat mulutnya selalu gong-gong ke sana ke mari. Hanya untuk mencari dukungan.

Monday, December 19, 2022

Lepas Perawan = Tuntutan Dinikahi?

Btw, kali ini saya menulis dari sisi fikiran saya sendiri. Bukan dari sisi manapun, sehingga jika terdapat ketidak sinkronan atau dirasa tulisan saya membuat hati pembaca tidak berkenan (mohon diabaikan saja postingan saya satu ini)… 

Idealnya hubungan sex dilakukan atas dasar saling suka, saling menikmati, dan tidak di bawah paksaan.

Ketika lelaki ataupun perempuan dewasa memutuskan untuk melakukan hubungan badan secara sadar, semestinya mereka sudah siap dengan konsekuensi yang ada.

Saturday, August 27, 2022

alangkah lucunya si 'manusia' ini

Pernahkah kalian merasakan perasaan geli yang luar biasa besar kepada seseorang?
Hingga berasa ingin menghantamkan kepala orang tersebut ke dinding atau meja, biar lega dan puas?
.
Ya, saat ini aku sedang merasakan hal tersebut. Jika tidak dalam keadaan sadar, mungkin sudah aku lakukan.
.
Geli melihat sikap dan gaya orang yang amat sangat tidak bisa menghargai orang lain, tidak merasa memiliki salah, bahkan yang ada malah berlaku seolah-olah dialah korban dari sifat bangsatnya.
.
Kali ini aku benar-benar sedang merasa alergi dengan sosoknya (ah lupa, ketika aku menuliskan ini, dia masih ada dalam daftar friend list IG ku).
Kenapa tidak di remove? Oh tidak. Biarkan dia sendiri yang melakukannya, sama seperti ketika dia memilih untuk delete contact whatsapp di saat dia merasa tersakiti dengan ketikanku yang aku anggap logis dan memang fakta.
.

Tuesday, March 15, 2022

Do You Believe In Divorce?

"Do you believe in divorce?". Satu kalimat yang "dulu" menurutku sangat aku hindari, atau tidaklah pantas untuk ditanyakan. Boro-boro buat tanya ke orang lain, terlintas di fikiran saja engga..

Kita boleh berencana, namun waktu, keadaan, fikiran, dan kondisi terkadang menentukan hasil akhir.. Menurutku tidak sedikit dari ribuan orang di luar sana memilih untuk tetap berjuang dalam ikatan komitmen yang mungkin dirasa sudah tidak lagi mesra.. 

Setiap langkah adalah pilihan, ya.. pilihan dari masing-masing orang yang menjalaninya, dan Yes.. i choose it, pada akhirnya aku memilih untuk melepaskan dan merelakan sebuah ikatan yang entah jika dijalani akan berujung kemana.. Nope! Jauh di dalam hati kami, we know what will happen.. soon or later.

Monday, October 4, 2021

Untukmu yang merasa teman

Teruntukmu seseorang yang mengaku sebagai teman, namun sering kali memberikan luka yang terdalam dibanding kan mereka yang jelas telah aku anggap sebagai kawan.

Entah kenapa untuk kesekian kalinya lidahmu menorehkan luka yang sulit aku hapus dari telinga, mata, dan hati. 

Kamu selalu mengatakan bahwa hanya kamulah yang bersedia menjadi temanku, tetapi sikap dan tutur katamu sama sekali tidak mencerminkan bahwa aku adalah teman di dalam hidupmu.

Ini pertama kalinya aku merasakan kekecewaan pada orang di luar lingkaran kehidupan inti.

Jika memang aku hina di matamu, apakah dengan cara selalu merendahkan dan berusaha memancing orang untuk mengetahui kekuranganku adalah hal yang membanggakan untukmu?

Tuesday, April 6, 2021

Berteman seharusnya tidak membuat kita menjadi terbangsatkan.

Ya, sesuai dengan judulnya bahwa berteman seharusnya tidak membuat kita menjadi bangsat atau terbangsatkan. Hah.. apapula itu terbangsatkan?

Aku tidak dapat menemukan kata yang pas untuk mewakili kondisi ini, dimana ketika kita memiliki teman sewajarnya adalah kita merasa bahagia, bukan malah menjadikannya beban.

Di jaman sekarang ini tidak munafik banyak sekali orang yang berteman hanya untuk mendapatkan bahan gibah atau gosip. Makna pertemanan telah bergeser dari yang dahulunya sebagai tempat sharing, menjadi tempat 'who cares'.. (Memang tidak semuanya seperti ini, tetapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa yang tertulis pun ada sisi benarnya).

Apakah aku termasuk orang yang susah memiliki teman?Hingga menulis sekasar ini? Jelas. 

Monday, March 1, 2021

what a FUCKING LOVE

what a fucking love?
you said you are very love him, as much as your life

But anytime you always yelling at him, we all are knows that:
there is no manner on your mouth.
there is no attitude on your brain.
there is no positive thingking on your mind.

Wednesday, February 24, 2021

Kata Orang Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih anak sepanjang galah?

Kata orang kasih ibu sepanjang masa? aku sering kali mendengar kalimat-kalimat seperti ini berseliweran baik di televisi, lingkungan sekitar ataupun ditulisan-tulisan media.

Selalu terbersit dalam hati, apakah benar kasih ibu sepanjang masa dan kasih anak sepanjang galah?

Jika kasih ibu sepanjang masa? Bagaimana mereka akan menjelaskan kepada anak yang mepertanyakan tentang bayi yang sering ditemukan terbuang di jalanan, tong sampah, atau di depan teras rumah orang?

Saturday, April 12, 2014

Tuan, Maaf...

Tuan..maaf saya sedikit bingung dan tidak mengerti dengan apa yang anda inginkan?? anda ingin dia menjadi penurut dalam kesehariannya.. lalu? kurang -penurut- apalagi jika dia yang selama ini :
 

1. selalu berusaha tidak membuat absensi merah (bahkan dengan berangkat 2jam lebih awal dari biasanya telah dia lakukan)
2. dia yang satu derajat dengan anda -pekerja- memiliki hak cuti yang sama dengan and
a, namun dia lebih memilih mengabaikan hak tersebut untuk menjadi -penurut- di mata anda
3. jika anda berkata risih dengan rengekan, ingatlah bahwa dia adalah orang yang tidak pernah merengek untuk membuat hidup anda suram dalam hari-hari kerja anda.
4. dia yang selalu berkata "iya" ketika anda bertitah "kerjakan"


kurang penurut apalagi Tuan?? ataukah dia harus meminum air bilasan kaki anda, untuk menjadikannya benar-benar penurut di mata anda??
Maaf Tuan, anda bukan ALLAH SWT yang harus dia sembah.

Tuan yang terhormat, saya mohon sisakan waktu senggang anda untuk sedikit membaca kitab yang kita yakini sama :

Allah SWT berfirman : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri...” (QS. Al-Isra'/ 17 : 7) dan bahkan "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" (QS. AL Baqarah : 185)

Monday, February 3, 2014

J&J to A&A

Kita pernah berada pada posisi jengah, tidak perduli dengan apa yang orang lain rasakan
Bahkan sangat tidak perduli dengan itu semua...
Jengah menghadapi kondisi lingkungan , jengah menghadapi klien, jengah menghadapi keluarga, jengah menghadapi lingkungan main, jengah menghadapi lingkungan kerja atau yang lebih ekstrem jengah menghadapi hidup.

Dan terkadang kita dipaksa untuk tetap berada pada posisi yang membuat kita ingin berteriak `ENOUGH` meskipun pada kenyataanya kita tetap berada ditempat dan posisi yang sama.